Sifat Baik Itu Masih Ada di antara Kaum Muslimin

No comment 402 views
cerita inspiratif islami, kisah inspiratif islami, Sifat Baik Itu Masih Ada di antara Kaum Muslimin, kisah umar bin khattab
Suatu hari, ‘Umar ibn Al Khattab sedang duduk di bawah sebatang kurma. Serbannya dilepas, sehingga menampakkan kepala yang rambutnya mulai teripis di beberapa bagian. Di atas kerikil dia duduk, dengan cemeti imaratnya tergeletak di samping tumpuan lengan. Di hadapannya, para pemuka shahabat bertukar pikiran dan membahas berbagai persoalan.

Di dalam halaqah tersebut, ada seorang anak muda yang tampak menonjol. Abdullah ibn ‘Abbas namanya. Berulangkali Khalifah ‘Umar memintanya bicara. Jika terdapat perbedaan pendapat, ‘Umar hampir selalu bersetuju dengan Ibnu ‘Abbas. Ada juga Salman Al Farisi yang tekun menyimak. Ada juga Abu Dzar Al Ghifari yang sesekali bicara berapi-api.

Tiba-tiba pembicaraan mereka terjeda, dengan kedatangan dua orang pemuda yang berwajah mirip dengan mengapit seorang Pemuda lain yang mereka cekal lengannya.

“Wahai Amirul Mukminin” ujar salah seorang dari mereka. ”Tegakkanlah hukum Allah atas pembunuh Ayah kami ini !“

Khalifah ‘Umar bangkit dan berkata, “Takutlah kalian kepada Allah !” ujar ‘Umar. “Perkara apakah ini ?”

Kedua pemuda itu menegaskan bahwa Pemuda yang mereka bawa ini adalah pembunuh ayah mereka. Mereka siap mendatangkan saksi dan bahkan menyatakan bahwa si pelaku ini telah mengaku.

‘Umar bertanya kepada sang tertuduh, “Benarkah apa yang mereka dakwakan kepadamu ini ?”

“Benar wahai Amirul Mukminin !” jawab sang Pemuda tersebut.

“Engkau tidak menyangkal dan di wajahmu kulihat ada sesal !” ‘Umar menyelidik dengan teliti. “Ceritakanlah kejadiannya !”

“Aku datang dari negeri yang jauh” kata Pemuda itu. “Begitu sampai di kota ini, aku tambatkan kudaku di sebuah pohon dekat kebun milik keluarga mereka. Ku tingggalkan ia sejenak untuk mengurus suatu hajat tanpa aku tahu ternyata kudaku mulai makan sebagian tanaman yang ada di kebun mereka”

“Saat aku kembali” lanjutnya sembari menghela nafas, ”Kulihat seorang lelaki tua yang kemudian aku tahu adalah ayah dari kedua pemuda ini sedang memukul kepala kudaku dengan batu hingga hewan malang itu tewas mengenaskan. Melihat kejadian itu, aku dibakar amarah dan kuhunus pedang. Aku khilaf, aku telah membunuh lelaki tua itu. Aku memohon ampun kepada Allah karenanya” mendengar cerita tersebut Khalifah ‘Umar termenung.

“Wahai Amirul Mukminin” kata salah satu dari kedua adik beradik itu, “Tegakkanlah hukum Allah. Kami minta qishash atas orang ini. Jiwa dibayar jiwa”

‘Umar melihat ke arah pemuda tertuduh itu. Usianya masih sangat muda. Pantas saja dia mudah dibakar hawa amarah. Tapi sangat jelas bahwa wajahnya teduh. Akhlaknya santun. Gurat-gurat sesal tampak jelas membayang di air mukanya. ‘Umar iba dan merasa alangkah sia-sianya jika anak muda penuh adab dan berhati lembut ini harus mati begitu pagi.

“Bersediakah kalian” ucap ‘Umar ke arah dua pemuda penuntut qishash, ”Menerima pembayaran diyat dariku atas pemuda ini dan memaafkannya ?”

Kemudian dua Pemuda itu saling pandang, ”Demi Allah, wahai Amirul Mukminin” jawab mereka. “Sungguh kami sangat mencintai ayah kami. Dia telah membesarkan kami dengan penuh cinta. Keberadaannya di tengah kami takkan terbayar dan takkan terganti dengan diyat sebesar apapun. Hati kami baru tenteram jika had ditegakkan !”

‘Umar terhenyak, “Bagaimana menurutmu ?” tanyanya kepada pemuda sang terdakwa.

“Aku ridha hukum Allah ditegakkan ke atasku, wahai Amirul Mukminin” kata si Pemuda dengan yakin.

“Namun ada beberapa hal yang menghalangiku untuk sementara ini. Ada amanah dari kaumku atas beberapa benda maupun perkara yang harus aku sampaikan kepada mereka. Demikian juga keluargaku. Aku bekerja untuk menafkahi mereka. Hasil jerih payah di perjalanan terakhirku ini harus aku serahkan pada mereka, juga memohon ridha dan keampunan ayah dan ibuku”

‘Umar terenyuh. Tak ada jalan lain, hudud harus ditegakkan. tetapi Pemuda itu juga memiliki amanah yang harus ditunaikan.

“Jadi bagaimana ?” tanya ‘Umar.

“Jika engkau mengizinkanku, wahai Amirul Mukminin, aku minta waktu tiga hari untuk kembali ke daerah asalku guna menunaikan segala amanah itu. Demi Allah, aku pasti kembali di hari ketiga untuk menetapi hukumanku. Saat itu, tegakkanlah had untukku tanpa ragu, wahai Putra Al Khattab.”

“Adakah orang yang bisa menjaminmu ?”

“Aku tidak memiliki seorang pun yang ku kenal di kota ini, hingga dia bisa kuminta menjadi penjaminku. Aku tak memilki seorang pun penjamin kecuali Allah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat”

“Tidak ! Demi Allah, tetap harus ada seseorang yang menjaminmu atau aku tak mengizinkanmu pergi”

“Aku bersumpah dengan nama Allah yang amat keras ‘adzabnya. Aku takkan menyalahi janjiku”

“Aku percaya. Tetapi tetap harus ada seorang manusia yang menjaminmu !”

“Aku tak punya !”

“Wahai Amirul Mukminin !” terdengar sebuah suara yang berat dan berwibawa menyela. “Jadikan aku sebagai penjamin anak muda ini dan biarkanlah dia menunaikan amanahnya !”

Inilah dia Salman Al Farisi yang tampil mengajukan diri.

“Engkau hai Salman, bersedia menjamin anak muda ini ?”

“Benar, aku bersedia !”

“Kalian berdua adik beradik yang mengajukan gugatan,” panggil ‘Umar, “Apakah kalian bersedia menerima penjaminan dari Salman Al Farisi atas orang yang telah membunuh ayah kalian ini ?? Adapun Salman demi Allah, aku bersaksi tentang dirinya bahwa dia lelaki ksatria yang jujur dan tak sudi berkhianat.”

Kedua Pemuda itu saling pandang, “Kami menerima,” kata mereka nyaris serentak.

_____ *** _____

Waktu tiga hari yang disediakan untuk sang terhukum nyaris habis. ‘Umar gelisah tak karuan. Dia mondar-mandir, sementara Salman duduk khusyu’ di dekatnya. Salman tampak begitu tenang padahal jiwanya sedang berada di ujung tanduk. Andai lelaki Pembunuh itu tak datang memenuhi janjinya, maka dirinyalah selaku Penjamin yang akan menggantikan tempat sang terpidana untuk menerima qishash.

Waktu terus melaju. Dan, Pemuda itu masih belum muncul.

Kota Madinah mulai terasa kelabu. Para Sahabat berkumpul mendatangi ‘Umar dan Salman. Demi Allah, mereka keberatan jika Salman harus dibunuh sebagai badal (pengganti). Mereka sungguh tak ingin kehilangan sahabat yang pengorbanannya untuk Islam begitu besar itu. Salman seorang sahabat yang tulus dan rendah hati. Dia dihormati. Dia dicintai.

Satu demi satu dimulai dengan Abu Darda’ dan beberapa sahabat lainnya, mereka mengajukan diri sebagai pengganti Salman jika hukuman benar-benar dijatuhkan kepadanya. Tetapi Salman menolak. ‘Umar pun juga menggeleng. Matahari terus lingsir ke barat. Dan Kekhawatiran ‘Umar pun semakin memuncak. Para sahabat makin kalut dan sedih.

Hanya beberapa saat menjelang habisnya batas waktu, tampak seseorang datang dengan berlari tertatih dan terseok-seok. Dialah Pemuda itu, Sang Terhukum.

“Maafkan aku,” ujarnya dengan senyum tulus sembari menyeka keringat yang membasahi sekujur wajah, “Urusan untuk kaumku itu ternyata berbelit-belit dan rumit. Sementara untaku tak sempat beristirahat. Ia kelelahan nyaris sekarat dan terpaksa ku tinggalkan di tengah jalan. Aku harus berlari-lari untuk sampai ke mari hingga nyaris terlambat.”

Semua yang melihat wajah dan penampilan pemuda ini, merasakan satu sergapan iba. Semua yang mendengar penuturannya merasakan keharuan yang mendesak-desak. Semua tiba-tiba merasa tak rela jika sang Pemuda harus berakhir hidupnya di hari itu.

“Pemuda yang jujur,” ujar ‘Umar dengan mata berkaca-kaca, “Mengapa kau datang kembali padahal bagimu masih ada kesempatan untuk lari dan tak harus mati menanggung qishash ?”

“Sungguh, jangan sampai ada orang yang mengatakan,” kata Pemuda itu sambil tersenyum ikhlas, “Tak ada lagi orang yang menepati janji. Dan jangan sampai ada yang mengatakan, tak ada lagi kejujuran hati di kalangan kaum Muslimin.”

“Dan kau Salman ?” kata ‘Umar bergetar, “Untuk apa kau susah-susah menjadikan dirimu penanggung kesalahan dari orang yang tak kau kenal sama sekali ? Bagaimana kau bisa mempercayainya ?”

“Sungguh, jangan sampai ada orang yang bicara,” ujar Salman dengan wajah yang teguh, “Bahwa tak ada lagi orang yang mau saling membagi beban dengan saudaranya. Atau jangan sampai ada yang merasa, tak ada lagi rasa saling percaya di antara kaum Muslimin.”

“Allahu Akbar !” kata ‘Umar, “Segala puji bagi Allah. Kalian telah membesarkan hati umat ini dengan kemuliaan sikap dan agungnya iman kalian. Tetapi bagaimanapun wahai Pemuda, had untukmu harus kami tegakkan !”

Pemuda itu mengangguk pasrah.

“Kami memutuskan…” kata salah seorang dari kakak-beradik penggugat tiba-tiba menyeruak.

“Untuk memaafkannya,” mereka tersedu sedan. “Kami melihatnya sebagai seorang yang berbudi dan menepati janji. Demi Allah, pasti benar-benar sebuah kekhilafan yang tak disengaja jika dia sampai membunuh ayah kami. Dia telah menyesal dan beristighfar kepada Allah atas dosanya. Kami memaafkannya. Janganlah menghukumnya, wahai Amirul Mukminin.“

“Alhamdulillah ! Alhamdulillah !” ujar ‘Umar. Pemuda terhukum itu sujud syukur.
Salman tak ketinggalan menyungkurkan wajahnya ke arah kiblat mengagungkan Asma’ Allah, yang kemudian bahkan diikuti oleh semua hadirin.

“Mengapa kalian tiba-tiba berubah pikiran ?” tanya ‘Umar pada kedua ahli waris korban.

“Agar jangan sampai ada yang mengatakan,” jawab mereka masih terharu, “Bahwa di kalangan kaum Muslimin tak ada lagi kemaafan, pengampunan, iba hati dan kasih sayang.“

author
Author: