Cara Bijak Mengenali Diri Anda

No comment 395 views

Manusia itu unik. Kenapa unik? Karena kebetulan yang menulis artikel ini adalah seorang manusia. Jadi jangan heran jika manusia disebutnya unik. Kita ini unik karena setiap dari kita memiliki perbedaan yang sangat kompleks. Perbedaan itulah yang kemudian menimbulkan interaksi dan saling melengkapi di antara kita. Namun tak jarang juga yang menggunakannya untuk tujuan eksploitasi. Sekali lagi karena kita UNIK!

cara bijak mengenali diri anda

Berbeda dengan hewan, Manusia dibekali akal untuk dapat mereduksi luapan nafsu yang menggebu-gebu. Pun demikian halnya dengan malaikat, manusia berbeda karena lagi-lagi kita dibekali akal dan pikiran untuk iseng-iseng membangkang dengan perintah Tuhan, bahkan tak jarang melakukan pemberontakan ala revolusi. Itulah MANUSIA, dan itulah KITA.

Setelah memulai dengan dua paragraf pembuka yang secara halus (mungkin) menggambarkan realitas akan siapa diri kita, tetapi pertanyaannya sudahkan anda tau siapa diri anda?

Maka dari itu, marilah kita lebih mengenal siapa gerangan diri ini yang sering disebut-sebut sebagai manusia dengan berbagai atribut yang melekat dalam setiap diri. Ada yang menyebut kita manusia sukses, manusia gagal, manusia bajingan, manusia setengah dewa, sampai dengan manusia setengah ebles. Ya, apapun sebutan itu, alangkah baiknya kita semua merenungi who are we (Siapa diri kita), yang saya rangkum sebagai cara bijak mengenali diri..

# Kita Tak Lebih Dari Sekedar Tetesan Air Mata Di Tengah Samudra



(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Anda pernah menangis di tengah lautan? Hahaha. Saya kira hanya orang dengan kegalauan papan atas yang akan menyempatkan dirinya untuk mendayung perahu lalu kemudian menangis tersedu-sedu dalam kesunyian dan kedalaman laut.

Tetapi seperti itulah analogi yang pas untuk menggambarkan hakikat kita sebagai manusia jika dikomparasikan dengan semesta dan Sang Khalik tentunya.

Bayangkan dalam sebulan mungkin hanya ada satu orang yang akan memilih lautan menjadi tempat linangan air matanya. Seberapa banyak tetesan air mata yang ia jatuhkan jika dibandingkan dengan keseluruhan volume air laut, maka seperti itulah diri kita sebagai manusia yang kadangkala merasa congkak dan besar, padahal kita hanyalah makhluk kecil nan kerdil.

# Musuh Terbesar Kita Adalah Diri Sendiri

Setelah mengetahui hakikat kita yang ternyata sangat dan amat kerdil, selanjutnya kita harus tau apa gerangan yang ada dalam diri kita yang senantiasa mempengaruhi setiap langkah dan hidup kita. Dan ternyata, yang ada dalam diri itu adalah diri kita sendiri. Artinya segala sesuatu yang anda lakukan tidak akan terlepas dari pengaruh dan pertimbangan diri. Sehingga jangan heran jika kadangkala kita merasa berani, namun tak jarang kita merasa kecut. Hal ini tidak lain karena apa yang anda hadapi adalah diri anda sendiri.

Saat kita ingin pergi beribadah, bukankah rasa malas yang berasal dari diri kita yang menjadi penghalang? ketika kita dicaci maki orang lain,bukankah kemarahan yang berasal dari diri kita yang mengubah kita menjadi sosok yang membalas perbuatan tersebut?

Ketika kita takut kepada seseorang, padahal kita telah melakukan suatu hal yang benar ( setidaknya menurut pikiran kita sendiri ), hanya karena orang tersebut atasan kita. Bukankah rasa takut yang muncul dari dalam diri kita yang menjadi pembungkam kita untuk mengatakan hal yang benar tersebut?. Itulah mengapa diri kita yang menjadi musuh kita sendiri, karena pada kenyataanya,sering kali diri kita sendiri yang mencari masalah ataupun sumber kegagalan yg nantinya kita hadapi.

Oleh sebab itu, sebelum kita memutuskan untuk berlayar dan mengarungi samudra yang bergelombang, alangkah baiknya jika diri kita telah siap dan tidak ada yang namanya ketakutan akan badai dan apapun yang nantinya akan menghalangi pelayaran kita. Kalahkan ketakutan lalu bentangkan layar anda, karena sekali anda berlayar tidak ada alasan untuk kembali karena badai. Sebab lebih baik tenggelam dalam kemuliaan daripada kembali dengan kehinaan, Setuju?

# Sombong Adalah Sumber Kemacetan Lalu lintas Hidup



(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Bukan hanya jakarta yang bisa macet tetapi hidup juga bisa jauh lebih macet. Jakarta macetnya hanya berjam-jam tetapi jika hidup yang macet, membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk keluar dari jeratannya atau bahkan selamanya akan terjebak di dalamnya. So, apa penyebab dan sumber kemacetan dalam hidup? Sombong!

Sikap sombong muncul saat kita merasa diri lebih baik dan lebih cerdas serta lebih tinggi dibandingkan orang lain. Orang yang sombong hanyalah orang guoblok yang tidak mengenal falsafah hidup “Di atas langit masih ada langit.”

Kalau kita sering memposisikan diri sebagai manusia yang paling baik dan paling berbakat, jauh melebihi manusia lainnya, maka hanya ada satu sebutan baginya ketika bertemu dengan orang yang jauh lebih baik, lebih hebat, dan lebih berbakat. Setruk!

Nah gimana gak setruk (stroke) tiba-tiba ada satu makhluk yang bisa menyaingi dirinya. Makhluk yang entah dari mana datangnya tiba-tiba masuk dan menghantui kehidupan si orang sombong ini. Dulu ia dikenal dimasyarakat sebagai orang nomor satu, tetapi sekarang nomor sepuluh pun tidak. Dulu mungkin dia dianggap sebagai orang paling cerdas, tetapi sekarang kecerdasannya tidak lain hanyalah kebodohan yang terselebung.

Ya sudahlah mungkin dia lupa atau mungkin dia lelah dengan berbagai persoalan hidup yang penuh dengan dinamika, dia lupa bahwa suatu saat di harus gantian tinggal di emperan jalan menggantikan posisi gelandangan-gelandangan hebat yang selama ini ia anggap sampah. Alhasil dirinyalah yang menjadi sampah beneren akibat dari kesombongan yang membuatnya terjebak dalam “kemacetan” selamanya. Hiks!

Oleh sebab itu, hati-hati dengan diri anda, jangan sampai terjebak dalam kesombongan yang pada akhirnya akan membuat anda sengsara. Jadilah manusia yang tawadhu (rendah hati). Karena hanya dengan tawadhu anda akan disegani, dihargai, dan tentunya disukai banyak orang.

Saya kira demikian sedikit renungan bagaimana anda bersikap bijak dalam mengenal diri anda agar tidak terjebak dalam carut marut kehidupan yang kian hancur dan kejam ini. Sekian, wassalam!

author
Author: