Cerpen Cinta Terbaru 2016

No comment 469 views
Cerpen Cinta Terbaru 2016 Cinta adalah sebuah emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi. Dalam konteks filosofi cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang. Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apa pun yang diinginkan

Cerpen Cinta Terbaru 2016

Cerpen Cinta

Cinta Dalam Doa

Aku berdiri menatap sudut kamar. Memandang fotomu yang terpajang rapi dalam bingkai. Sudah enam bulan kamu menghilang seperti tertelan bumi. Tidak ada satupun kerabatmu yang bisa ku hubungi. Akun facebook sepertinya sengaja kamu hapus. Kamu membuatku hampir gila, memberikan harapan indah lalu meninggalkanku layaknya sesuatu yang tidak bermakna.
Aku mohon Bima, temui aku. Jika hubungan kita harus berakhir tak apa. Tapi aku ingin mendengar alasan langsung dari mulutmu. Airmataku sudah habis untuk menangisi kehilanganmu yang tanpa jejak. Aku terlalu setia. Sampai saat ini hatiku tidak pernah terbagi. Tiap berganti hari aku selalu berharap ada kabar darimu.
Saat ini aku merasa sangat kesepian. Ayahku dirawat di rumah sakit untuk mengobati penyakit kanker paru-paru yang dideritanya. Mungkin jika ada kamu bebanku tidak akan terasa seberat ini. Bima, sungguh aku tidak sanggup menghadapi ini sendirian. Aku membutuhkanmu untuk tempatku berbagi. Ibuku meninggalkan ayahku untuk laki-laki lain. Apakah kamu juga begitu? Benarkah aku sudah tersingkir dari hatimu karena wanita lain.
Hari ini aku lulus dari pendidikan keperawatan. Aku sendiri merayakan kelulusanku tanpa ditemani orang-orang yang aku sayang. Kondisi ayahku terlalu lemah untuk menghadiri acara wisudaku. Ibuku entah dimana keberadaannya. Bima Prayoga yang telah menjadi kekasihku hampir tiga tahun juga lenyap dari hidupku. Terlalu sadis kenyataan yang harus aku terima.
“Jangan memikirkan Bima terus, belum tentu dia mikirin lo” hampir setiap hari Yeni berkata seperti itu.
“Gak bisa Yen, bantu gue cari Bima” wajahku memelas menatap Yeni.
“Cari dimana? kita gak punya tanda-tanda keberadaan Bima. Kenapa harus Bima yang lo cari? sementara nyokap lo dibiarkan menghilang tanpa kabar” Yeni terlihat acuh.
Aku berpikir seribu kali mendengar ucapan Yeni. Benar juga apa yang dia katakan. Seharusnya aku lebih mendahulukan mencari ibuku daripada Bima. Tapi, untuk apa mencari ibuku, seandainya bisa ku temui aku tetap tidak akan bisa membawanya kembali ke rumah karena dia sudah memiliki keluarga baru. Untuk apa juga susah payah mencari Bima jika akhirnya mungkin aku akan kecewa. Waktuku terlalu banyak tersita untuk mereka yang telah melupakanku. Lebih baik aku habiskan waktuku untuk bekerja mencari uang supaya bisa membayar biaya pengobatan ayahku yang tidak sedikit.
Bertahanlah ayah, berjuanglah melawan sakitmu. Cuma ayah yang aku miliki saat ini. Jangan tinggalkan aku seperti mereka. Tidak ada seorangpun yang bisa melawan takdir. Pada akhirnya ayahku dipanggil oleh Tuhan. Aku sebatang kara, berjuang hidup sendirian di Jakarta. Pamanku mengajakku pindah ke Makasar. Bekerja di rumah sakit di sana. Aku memutuskan untuk meninggalkan Jakarta. Yang paling berat bagiku adalah meninggalkan kenangan di rumah yang bertahun-tahun aku tempati bersama orangtuaku.
“Jangan lupa sama gue, kalau ada waktu usahakan datang ke Jakarta” Yeni memelukku.
“Tenang aja, kalau ada waktu gue pasti main ke Jakarta” aku menarik koper sambil melambaikan tangan.
Aku merasa nyaman tinggal di Makasar. Di sini aku memiliki keluarga baru. Tidak lagi merasa kesepian. Gajiku sebagai perawat cukup untuk memenuhi kebutuhanku. Hidup itu indah jika kita mensyukurinya. Lebih dari setahun aku kehilangan Bima. Tapi saat ini aku dibuat tidak berdaya dengan apa yang ada di depanku. Nyawaku seperti ditarik paksa. Dihadapanku terbaring sosok yang tidak lagi berdaya. Pasien penderita HIV AIDS yang harus kurawat ternyata adalah Bima. Inilah jawaban dari penantianku.
“Bima, benarkah ini kamu?” aku menghampirinya dengan langkah gemetar.
“Stop! Jangan dekati aku, tubuhku penuh dengan virus” Bima menolak untuk ku dekati.
“Bima, kenapa kamu bisa menjadi seperti ini? aku sangat menderita kehilanganmu, tapi melihat keadaanmu sekarang membuatku lebih tersiksa” aku terisak di samping tempat tidur Bima.
“Pergi! Jangan sentuh aku, nanti kamu bisa tertular” Bima meringkuk ketakutan.
“Jangan takut Bima, tertularpun aku mau supaya aku juga bisa merasakan sakitmu” aku memeluk Bima.
“Jangan pergi lagi. Jangan menghilang lagi dari sisiku. Aku akan temani kamu melawan sakitmu” bisikku di telinga Bima. Tiap detik virus-virus itu menggerogoti tubuh Bima.
Mendengar suara rintihannya saat menahan sakit membuat hatiku tersayat dan berdarah. Apa yang dokter lakukan hanya untuk memperpanjang waktu hidupnya, bukan untuk menyembuhkan. Aku harus kembali pasrah pada takdir. Bersiap ketika maut harus merenggut kembali orang yang ku sayangi.
“Tuhan, bagi rasa sakit yang Bima rasakan padaku supaya dia tidak terlalu menderita” itu doaku tiap detik. Daya tahan tubuh Bima semakin menurun. Tak ada lagi kekuatan untuk menahan sakitnya. Akupun tidak lagi memiliki kekuatan untuk tetap tegar mendampingi Bima.
Satu tahun kemarin menghilangnya Bima sudah cukup membuatku menderita. Tidak rela jika harus kehilangan lagi. Bima meninggal dalam pelukanku. Pelukan terakhirku untuknya. Selesai pemakaman Bima, aku membaca isi buku yang selalu Bima genggam tiap saat. Buku yang selalu dirahasiakan isinya oleh Bima. Di lembar terakhirnya tertulis.Meskipun Tuhan tidak mengizinkanku hidup lebih lama, tapi aku bersyukur telah diberi kesempatan untuk hidup dalam cintaku.
Anggun, kamu menjadi obat untuk penyakit yang tidak ada obatnya ini. Jika tiba saatnya aku harus kembali pada sang pencipta, mohon ikhlaskanlah. Sesungguhnya aku tetap hidup dalam hatimu. Jika kamu rindu, kirimkan rindumu lewat doa. Cinta yang aku miliki adalah cinta abadi untukmu. Aku bisa menjaganya hingga nafas terakhirku. “aku ikhlas Bima, istirahatkanlah tubuhmu dengan tenang di sisi sang maha penjaga. Lepaskan semua rasa sakitmu. Cintaku tak akan putus dalam doa” airmataku menetes di sela buku harian itu. Perpisahan bukanlah kehilangan. Hanya batas tipis antara kisah dan kenangan. Semoga kita bisa bersama lagi dalam episode kehidupan yang lain. I love you Bima. (Vita Net)


Cerpen Cinta Terbaru 2016

Judul: Janji Yang Membisu
Oleh: Ajeng Anggela Sari


Janji kebersamaan kita yang tak akan pernah pupus terlekang oleh waktu. Kini kau telah tenang disana sayang, menanti kehadiranku kembali untuk melanjutkan cerita kita dulu. Tuhan punya cara untuk mengindahkan kisah kita dulu. Janji yang pernah kita sematkan saat kebahagian sedang membasuh kita. Janji dariku Oky untukmu Seftya, dan untuk hubungan kita.

Dulu..
Dulu… Aku selalu berbahagia denganmu, menunggumu berjam-jam biasa bagiku, menunggu kehadiranmu kala kakimu menginjak gerbang sekolah selepas sekolah usai tak pernah membuatku jenuh. Tak pernah mulut ini rela untuk menegormu padahal begitu lamanya aku dibawah terik matahari yang usang hanya untuk menunggumu selepas sekolah.

Tak pernah sedikitpun kita bertengkar, berbicara angan kita untuk selalu bersama. Padahal 3 tahun sudah kita bersama, kau tetap selalu menjadi yang pertama. Cita-cita kita dulu saat kita masih mengenakan seragam putih abu adalah “Mendapatkan kebahagiaan yang layak untuk kita”.

Belajar bersama di sebuah Foodcourt selepas sekolah usai sambil bercengkrama, mengistirahatkan otak kita sambil bertukar pikiran ilmu yang kita temuakan di sekolah masing-masing itu hal yang selalu kita lakukan hampir setiap hari. Menyambangi rumahmu yang saat itu semakin jauh karena kepindahanku dari Komplek kita dulu tak menjadi penghalang bagiku untuk selalu menjadi ojek gratis tumpanganmu.

Omelan papah kala aku pulang malam karena habis mengajarimu soal matematika yang sungguh susahnya masuk dalam pikiranmu tak mampu hentikan kebiasaan kita. Apalagi saat celotehan mamahmu kala kita pulang terlambat saat hujan menyerbu dan menghentikan perjalanan kita untuk berteduh karena aku tak pernah ingin kau sakit. Betapa bodohnya aku kala kau sakit karena tetesan air hujan itu.

Meski mamahmu sering bilang “makanya bawa mobil” tak membuatku berhenti untuk belajar setir mobil, meski diam-diam dari papah. Aku memang telah ditinggal oleh sosok bidadari dalam diriku yaitu mamah, makanya aku selalu menghormati ribuan mamah didunia ini dan menganggap mamahmu adalah mamahku. Kau selalu bersedih kala mamahmu memarahimu, tapi aku selalu senang dan semakin sayang pada mamahmu karena bagiku ini perhatian yang diberikannya untukku.

Memang malang sekali nasibku hanya numpang mamah darimu, tapi itulah yang membuatmu senang menceritakan tentangku pada mamahmu. Aku ingat kala itu mamahmu senang mendengar bahwa aku sekolah sambil kerja, itu yang membuatnya menerima dan merestui hubungan kita. Kekokohan mamahmu dulu telah ku lunakan saat berita perjuanganku untuk melanjutkan hidup telah didengarnya.

Celotehan kebahagiaan pun menambah kebahagiaanku kala ku temukan ayahku kembali bersama wanita yang menjadi penggati mamahku katanya, tapi bagiku tak ada yang bisa menggantikan sosok mamah. Aku ingat, dan pasti selalu teringat saat kita sedang bermain di sebuah pantai yang jaraknya sangat jauh dari rumah dan pastinya jauh dari keluarga jauh dari kehangatan rumah yang selalu kau rindukan karena aku sangat paham kau sulit jauh dari rumah. Karena bagimu kehangatan hanya ada dirumah dan ada dalam diriku.

Kita pernah pergi kesana, ke sebuah pantai yang sangat biru, pemandangan yang berarti diselimuti ribuan pasir pantai putih,kita bersenang-senang disana. Meskipun malamnya aku harus menunggumu tertidur dikala semua mata harus terpejam apalagi kalau kau tak bisa tidur karena kangen rumah.

Kau pasti ingat, sore itu kala ujung pantai ingin menarik matahari yang berwarna oren keemasan, kita pernah berjanji, berjanji untuk selalu berbahagia. Janji kita saat itu adalah “Kita tak sehidup semati, karena Tuhan menciptakan kita untuk berbahagia. Jika salah satu diantara kita ada yang pergi, pergi mendahulukan keadaan, salah satu diantara kita tak boleh ada yang meneteskan air mata apalagi sampai meraung-raung untuk menghentikan keadaan.

Yang ditinggalkan haruslah melanjutakan kebahagiaan yang telah ditetapkan tuhan. Dengan mencari pengganti dari yang pergi” Janji itu kita sematkan diantara bergantinya masa diiringi kepergian matahari dari pelupuk mata. Kupikir itu hanya guyonan diantara candaan kita, sebenarnya itu hanya ledekan apakah sanggup dia kutinggalkan karena yang ku tahu dia salalu menolak untuk kutinggalkan. Sungguh itu ledekan dan candaan yang terindah untukku.

Kala itu, sebuah sore yang panjang bagiku betapa susahnya aku mengajarimu rumus-rumus soal matematika untuk nghadapi Ujian Akhir Nasional. Selepas pulang sekolah setelah refreshing sejenak hingga malam menyambangi kau baru mampu menyelesaikan soal UN tahun lalu. Bagaimana dengan tahun sekarang yang katanya akan lebih sulit katamu.

Aku tahu, kau tak pernah ingin menghadapi hari esok, katamu seandainya hari esok bisa diskip pasti kebehagiaanmu akan lengkap. Tapi tetap saja kau tak pernah bisa menghentikan hari esok atas perintah tuhan. Nampaknya kau mampu menyelesaikan hari esok dengan senyummu, dan benar kau tersenyum kala kau menginjakkan kakimu keluar dari gerbang sekolahmu dan katamu “kau membuat soal sulit sekali, tapi tadi soalnya mudah tau..” Dan hanya senyum jawabku, itulah caraku agar kau bisa mengerjakan soal yang sulit padahal soalnya tak sesulit itu.

Aku hanya tak ingin kau tak mampu mengerjakannya kala tak ada lagi aku disampingmu. Selepas UN berakhir, benar aku demam tinggi, mamah tiriku pun kelimpungan merawatku. Apalagi kamu malam-malam nekat menyambangi rumahku ditemani mamahmu karena kau tahu aku demam tinggi. Ku kira itu malam-malam terakhirku, ternyata mobil yang dikendarai papah melintasi jalanan yang senyap menyelamatkanku dan dokterpun membantuku untuk selamat. Saat aku kritis aku tahu, kau galau bukan main mamahmu pun yang terkadang galak dan terkesan membenciku luluh lagi karena melihat keadaanku yang lunglai tak berdaya.

Aku didiagnosa memiliki penyakit kritis, tapi kau menguatkanku. Hampir tiap menit kau buang butiran-butiran air mata hanya untuk menangisiku padahal aku tak apa-apa, hanya saja dalamnya ginjalku menahan ketakutan untuk tak bernyawa lagi dan meninggalkan senyummu. Ku kira saat itu aku yang akan meninggalkanmu, aku berpesan padamu untuk mengingat janji kita di bawah matahari yang terbenam sore itu. Kau menangis sejadi-jadinya kala ucapan itu terluncur dalam dekapku. Tapi Tuhan berbaik hati padaku, mungkin katanya pertemuanku dengan mamah dipending dulu yah karena kasihan melihat wajahmu yang begitu memelas padaku untuk selalu kuat.

Setelah hampir 2 minggu aku menyambangi rumah sakit yang telah bosan mendengar rintihanku, aku bisa pulang ke rumah dengan wajah yang sangat tak wajar. Itu 2 minggu yang sangat berat bagiku dan kamu, karena ga bisa seneng-seneng seperti biasa. Hari-hari berlalu dan kepulihanku pun mendiami tubuhku, meski harus dibantu obat untuk melanjutkan sisa hidupku tapi tak apalah demi kamu, demi senyuman itu. Detik-detik pengumuman UN pun masih sempat aku rasakan, apalagi kamu saat penasaran dengan hasil matematikamu dengan hasil berguru padaku. Memang sempat kau rasakannya tapi hanya sebentar, kau malah pergi bersama supir pribadi papahmu untuk membeli kado untukku, bodohnya kamu saat itu mendustakanku.

Kau tak ingin diantar olehku kala itu, meski biasanya aku memaksa karena khawatir kau kenapa-napa. Dan benar, kau ijin padaku untuk pergi bersama pak Deo, dia supir pribadi papahmu yang sedang istirahat selepas mengantar majikannya pulang kantor. Entah apa yang ada dipikiran Pak Deo untuk mengantarkan anak dari Tuannya ke hadapan tuhan. Dijalan, saat jalannan licin setelah hujan mengguyuri sepanjang jalan, membuat mobil yang dikendarai Pak Deo tergelincir, padahal jaket adidas yang telah kau beli dan sudah kau bungkus rapih dengan hiasan yang kau minta pada pelayan di sebuah distro olahraga telah kau siapkan untukku, tapi ternyata bukan kamu yang memberikannya padaku, tapi mamahmu.

Kau pergi dengan waktu yang panjang dan sangat lama, bahkan kau tak pernah kembali mungkin kau menungguku disana, diujung peraduan saat aku tak pernah bisa berhenti melupakanku. Disaat semua menangis, apalagi mamahmu meronta-ronta berharap waktu kembali dan berhenti, tapi aku tak pernah menangisi kepergianmu hingga kini dan sampai nanti, aku bahagia karena kau kembali padanya. Berarti sudah berhenti tanggung jawabku untuk menjagamu, ku yakin kau bisa menjaga dirimu disana.

Kutitipkan dirimu pada Tuhan karena ku yakin Tuhan akan selalu menjagamu dengan baik dan dengan kasih sayangnya. Sampai kau hembuskan nafas terakhirmu, dan kau pergi meninggalkanku disini aku akan selalu menyayangi dan mencintaimu. Jaket yang kau titipkan adalah jaket pemberian terakhirmu dan akan selalu ku jaga. Kini kau bahagia disisi tuhan, dan aku telah bahagia bersama seorang wanita bernama Jelita, dia adalah kekasihku sekarang, maafkan aku bukan maksud hati ingi mengkhianatimu, tapi karena mamahmu yang memintaku untuk menjaga keponakannya itu dan dia sepupumu.

Berat sebenarnya kala mamahmu memintaku menjaganya, tapi aku tak berdaya karena ku tahu dia tak berkawan dan tak ada yang menjaganya makanya, kini aku beralih untuk menjaganya. Kau tahu, betapa sempurnanya nilai matematikamu saat UN, pasti kau akan bahagia kala kau dengar pengumuman UN kala itu, kau mendapatkan nilai yang hampir sempurna 98, bahkan aku kalah darimu yang hanya bisa mendapatkan nilai 95 saat itu. Dan hasil Ujianmu lah yang terbaik di Sekolahmu, meski tak bertuah tapi nilai itu hanya kau yang memiliki dan tak akan ada yang dapat menggantikannya. ku harap kita akan bersama dikala waktu yang menyatukan kita kembali beradu. Tunggu aku sayang di Surga, aku pasti akan menyambangimu nanti, kala Tuhan memintaku untuk kembali. Bahagialah kau disana dan jangan pernah kau menangis kala rindu menguras habis dirimu dan aku tak bisa menghapus tangis itu lagi.

 Baca Juga : Kata Kata 

Demikianlah informasi mengenai Cerpen Cinta yang dapat admin sampaikan pada kesempatan kali ini semoga bermanfaat dan menjadi referensi ketika sahabat mau membuat cerpen atau sedang galau……

author
Author: